Senin, 09 Mei 2011

Rokok : Nikmat Membawa Sengsara


Matikan Rokok Anda
Jika pepatah mengatakan sengsara membawa nikmat, maka pada kasus ini adalah kebalikannya. Nikmatlah yang membawa kesengsaraan. Pepatah lain yang lebih mahsyur mengungkapkan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Maka yang terjadi disini adalah bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian.

Inilah yang saya simpulkan setelah berminggu-minggu menjalani stase di bagian pulmonology dan mempelajari berbagai penyakit yang menggerogoti alat pernapasan. Setelah menganamnesis tentang kebiasaan sosial sang pesakitan, maka tuhan sembilan senti versi Taufik Ismail ini telah mengubah pepatah-pepatah lama tentang rasa optimis dalam hidup.

Betapa tidak, ketika kita bertanya alasan seseorang menghisap rokok maka euforialah yang mereka jawab. Merokok itu nikmat, seperti yang diiklankan oleh sebuah produk rokok. Dapat meningkatkan konsentrasi karena mampu merangsang kerja neurotransmitter. Terkesan gagah layaknya jagoan yang ditampilkan pada iklan-iklan rokok. Lalu bagaimana dengan sepuluh dua puluh tahun kemudian?

Rokok menjadi raja dalam faktor resiko utama penyebab pasien-pasien harus di rawat di ruang paru. Mulai dari penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, bronkitis, bronkiektasis sampai kanker paru-paru dan berbagai penyakit lainnya dengan komplikasi yang tidak sedikit jumlahnya.

”Bagaimana buy cheap doxycycline saya tidak merokok, Dok. Sehari-hari saya berkerja sebagai penjual tembakau. Nah, kalo saya sendiri tidak merokok? Bagaimana mungkin orang mau membeli tembakau saya?” ucap seorang pasien yang didiagnosa dengan kanker paru setelah saya tanyakan tentang kebiasaan merokoknya.

”Waktu sakit saya ngga merokok lagi, dokter. Sudah enam bulan sejak nafas saya selalu sesak.”

Saya hanya tersenyum mendengar pembelaan dari bapak yang usianya masih kepala tiga itu. Hampir saja saya berucap, untuk apa lagi, Pak? Namun, saya sadar, tugas saya adalah memberikan edukasi dan terapi, bukan menjudge dan membuatnya semakin terpuruk. Tapi setidaknya hal ini bisa membuka mata kita betapa bahayanya levitra drugs rokok.

Dulu, seorang teman yang menamai dirinya sebagai pecandu rokok pernah protes karena merasa didiskriminasikan dan menjadi objek pelampiasan kesalahan akibat aktivitas merokoknya.

”Kenapa hanya perokok yang diserang? Tidakkah orang-orang yang berkendara juga menyumbangkan asap yang dapat mengganggu pernapasan? Kenapa mereka didiamkan saja tanpa ada vonis telah melakukan kesalahan?” ungkapnya sekaligus menanggapi kasus Tika yang pada akhir tahun silam meninggal karena bertahun-tahun menjadi perokok pasif. Tika yang malang didiagnosa dengan bronkopneumonia duplex, peradangan pada kedua paru yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme (bakteri, virus, amoxicillin buy jamur, parasit). Lantas hubungannya dengan rokok? Salah satu risk factor dari penyakit ini adalah rokok.

Kenapa harus asap rokok yang menjadi tersangka utama? Bagaimana dengan asap kendaraan bermotor, industri, atau benda lainnya yang mengelurkan asap? Penelitian menunjukkan bahwa asap rokok jauh lebih berbahaya dibandingkan polusi udara.

Bayangkan saja, lebih dari 4.000 zat kimia terdapat dalam asap rokok. Sedikitnya 250 zat berbahaya dan 50 diantaranya menyebabkan kanker terkandung dalam sebatang rokok. Ada logam berat beracun arsenik, benzene (bahan kimia dalam bensin), beryllium (logam beracun), kadmium (logam yang digunakan untuk baterai), etilen oksida (bahan kimia untuk mensterilkan alat medis), vinil klorida (zat toksik untuk membuat plastik) dan zat lainnya.

buy cheap online Ampicillin Drugstore justify;”>Bahkan National Cancer Institute, badan internasional untuk penelitian kanker (IARC) telah mengklasifikasikan asap rokok pada manusia sebagai karsinogen (zat yang menyebabkan kanker). Kemampuan zat ini memicu sel-sel normal menjadi ganas. Proses purchase diflucan perangsangan itu terjadi bertahun-tahun. Karenanya orang yang tidak merokok tapi sering menghirup asap rokok juga memiliki kemungkinan terkena kanker paru.

Memang, banyak penyebab-penyebab lain yang menyebabkan kanker paru, seperti zat kimia yang digunakan di bidang industri (asbestos, arsen, krom, nikel, besi, asap arang batu, uap minyak dan uranium). Namun, risiko yang ditimbulkan oleh pencemaran udaradari zat-zat tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang ditimbulkan akibat rokok sigaret.

Penyakit paru yang disebabkan oleh rokok tidak hadir secara simultan. Prosesnya terjadi puluhan tahun. Biasanya gejala kanker paru-paru diawali umur 40 tahun dan puncaknya pada usia 60 tahun. Begitu juga dengan penyakit paru obstuktif kronis (PPOK). Jadi, semakin dini seorang merokok dan terus menerus merokok, maka resikonya akan semakin besar. Begitu juga dengan perokok pasif, jika perokok pasif tersebut tinggal bersama dengan seorang perokok aktif, ada kemungkinan orang tersebut terpapar asap rokok setiap harinya, sehingga akumulasi dari zat-zat kimia tersebut semakin besar dan resiko terkena kanker dan penyakit lainnya juga besar.

Lantas solusinya apa? Jangan merokok dan hindarilah asap rokok serta ingatkan orang-orang tersayang kita untuk tidak menyentuh tuhan sembilan senti itu.

0 komentar: